Doa yang paling sering dibaca Rasulullah ﷺ adalah:
“Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar”
(Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka).
Doa ini sangat lengkap, mencakup permintaan kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari azab. Inilah doa yang seharusnya senantiasa ada dalam kehidupan seorang Muslim.
Rasulullah ﷺ biasa berdoa setelah shalat Subuh:
“Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan”
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan baik, serta amal yang Engkau terima).
Doa ini mencakup tiga kebutuhan utama manusia: ilmu untuk membimbing hidup, rezeki untuk menguatkan, dan amal yang diterima untuk keselamatan akhirat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ketika bangun tidur:
“Alhamdulillahil-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin-nusyur”
(Artinya: Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali).
Doa ini mengajarkan rasa syukur karena tidur adalah “kematian kecil”. Saat bangun, Allah memberi kesempatan baru untuk beramal.
Selain shalat wajib, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan shalat sunnah seperti tahajud, dhuha, rawatib, witir dan lainnya. Shalat sunnah berfungsi menyempurnakan kekurangan dalam shalat wajib.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat wajibnya. Jika masih ada kekurangan, Allah berfirman: ‘Lihatlah apakah dia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah dengannya kekurangan shalat wajibnya.’” (HR. Tirmidzi)
Shalat sunnah adalah hadiah bagi seorang Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah lebih dari sekadar kewajiban.
Zakat termasuk rukun Islam yang wajib bagi Muslim yang hartanya telah mencapai nisab. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga mekanisme keadilan sosial. Dengan zakat, harta yang kita miliki akan bersih dan berkembang.
Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Zakat juga menjadi solusi mengurangi kesenjangan sosial. Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, zakat begitu efektif hingga hampir tidak ada lagi orang miskin yang berhak menerima zakat.
Wudhu adalah syarat sah shalat. Allah memerintahkan dalam QS. Al-Maidah: 6 untuk membasuh wajah, tangan, kepala, dan kaki sebelum shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak diterima shalat seseorang tanpa bersuci.” (HR. Muslim)
Selain syarat ibadah, wudhu juga membawa keutamaan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap kali seorang Muslim berwudhu, dosa-dosanya akan berguguran bersama tetesan air terakhir. Maka wudhu tidak hanya membersihkan fisik, tetapi juga menyucikan jiwa.
Tahun ke-8 H, setelah perjanjian Hudaibiyah dilanggar oleh Quraisy, Rasulullah ﷺ memimpin 10.000 pasukan menuju Makkah. Penduduk Quraisy akhirnya menyerah tanpa perlawanan berarti.
Yang menakjubkan, Rasulullah ﷺ tidak melakukan balas dendam meski sebelumnya beliau dan para sahabat disiksa di Makkah. Beliau justru berkata:
“Pergilah kalian, kalian bebas.”
Berhala-berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan, dan tauhid kembali ditegakkan. Peristiwa Fathu Makkah menjadi bukti keagungan akhlak Nabi, yang mengutamakan kasih sayang dan ampunan dibanding pembalasan. Dari peristiwa ini, Islam semakin berkembang pesat di Jazirah Arab.
Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Jumlah pasukan Muslim hanya 313 orang dengan perlengkapan sederhana, sementara Quraisy membawa sekitar 1000 pasukan lengkap. Secara logika, kemenangan hampir mustahil. Namun, Allah menurunkan pertolongan-Nya.
Dalam Al-Qur’an (QS. Ali ‘Imran: 123-125), Allah menegaskan bahwa kemenangan di Badar adalah bukti pertolongan-Nya. Rasulullah ﷺ berdoa dengan penuh kesungguhan, hingga Allah mengirim para malaikat untuk membantu kaum Muslimin.
Perang Badar mengajarkan bahwa kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah atau kekuatan senjata, melainkan keimanan, kesabaran, dan tawakal. Peristiwa ini juga memperkuat posisi umat Islam di Jazirah Arab.
Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M adalah peristiwa monumental dalam sejarah Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan strategi dakwah yang penuh makna. Di Makkah, dakwah Islam menghadapi tekanan, boikot, bahkan penyiksaan terhadap kaum Muslimin. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi dan para sahabat untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah).
Di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Islam yang kokoh dengan tiga pilar utama: persaudaraan (ukhuwah) antara Muhajirin dan Anshar, piagam Madinah sebagai dasar hukum dan pemerintahan, serta masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan aktivitas sosial.
Hijrah menjadi tonggak dimulainya kalender Hijriyah dan simbol perjuangan, pengorbanan, serta kesabaran dalam menegakkan agama Allah.
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!